Thursday, 26 September 2019

Copy paste

*Sebagian orang menghindari topik Financial Planning dengan sengaja*.

Padahal topik Ini sangat relevan dan sangat urgent untuk dibicarakan dan dijalankan.

*================*
*Cobalah sempatkan baca postingan ini*
*==================*

Dari pengalaman, rasanya kita cuek dan kurang peduli dengan uang kita yg didapat dari gaji dan income lainnya. Kog bisa ? Mari kita lihat beberapa fakta.

Pertama
Selama 10 tahun, jumlah rekening dengan dana dibawah Rp 100 juta  TERUS BERTAMBAH tapi uangnya TIDAK BERTAMBAH.
Jumlah rekening yang memilikj dana di atas Rp 500 juta tidak bertambah banyak tapi uangnya meningkat pesat.
Data  dua bulan lalu:
- Total rekening sekuruh Indonesia ada 271. 7 juta rekening dengan total dana. Rp 5.700 Triliun
- yang memiliki dana dibawa Rp 100 juta memiliki 266,7 juta rekening atau 98 % dari seluruh rekening. Tapi dananya Hanya 14 % atau Rp 808 Triliun.
- yg memiliki dana diatas Rp 500 juta ada 1,2 juta rekening tapi dananya luar biasa. Ada sekitar Rp 4 200 Triliun ( 70% dari seluruh uang yang ada diperbankan).


Dana penabung kecil bisa dikatakan tidak mengalami pertumbuhan. Kog bisa?

Sebagian besar masyarakat memilih 4 Top Bank untuk menabung diantaranya BCA, Mandiri, BNI dan BRI. ( hampir 65 % rekening tabungan seluruh Indonesia dimiliki 4 bank diatas) 
Kalau kita tanya *berapa bunga tabungan di empat bank papan atas?*
Dari 10 orang yg ditanya, 7 orang mengatakan tidak tahu.
3 orang menjawab dengan ngawur. Artinya tidak ada yg sadar berapa bunga tabungannya?

Berapa besar bunga tabungan?
-   Untuk saldo kurang dari 1 juta keempat top bank TIDAK MEMBERIKAN BUNGA kepada nasabahnya dan masih dipotong biaya administrasi.

-   Saldo berkisar 1jt  - 500jt mendapat bunga berkisar antara 0,45% sampai 0,85% dalam setahun

-   Saldo berkisar >500 jt – 1 Miliar mendapat bunga berkisar antara 0,85% - 1 ,5% dalam setahun

Apakah kita sadar setiap bulan sebagai penabung kita  dikenakan biaya administrasi?
Ternyata banyak yg tidak menyadarinya.  Malah bangga memiliki lebih dari satu kartu atm. 
Biaya administrasi berdasarkan kartu yang dimiliki yaitu Silver Rp 15.000 per bulan, Gold Rp 17.000 per bulan dan Platinum Rp 20.000.per bulan.

Kalau saya memiliki dana Rp 20 juta di tabungan saya apa yg terjadi?
Dengan bunga 0,45 % setahun. Maka saya mendapat bunga setahun Rp 90 ribu atau hanya Rp 7,500  sebulan.
Sedangkan biaya administrasi Rp 17 ribu per bulan.
Maka yg terjadi setiap bulan tabungan saya tidak bertambah malah berkurang ( ada 270 juta rekening yg tidak menuadari atau tidak peduli kalau tabungan tidak bertumbuh).

Bagaimana dengan Kartu kredit?
Bila kita bayar tunai sebesar tagihan namanya Transaktor.
Bila dibayarnya dengan menyicil namanya revolver.
Bagi bank yg transaktor tidak membawa keuntungan. Yang diinginkan adalah yang revolver karena nasabah harus menbayar bunga ( Bunga kartu kredit 2,25%.) Artinya bunga kartu kredit setahun
30 % ( bandingan bunga tabungan tidak lebih hanya 1 %).

Bagaimana cara perhitungan bunganya?
Nasabah bisa membayar minimum payment yaitu 10% dari tagihan saat jatuh tempo tetapi total bunga berjalan dari tagihan yang belum dibayarkan akan ditambahkan pada bulan berikutnya atau dikenal dengan istilah bunga berbunga.

Dari contoh sederhana di atas  memeperlihatkan dana kita tidak berkembang dan pemakaian kredit dapat menjerumuskan keuangan kita.


*Jika ini dibiarkan, banyak orang akan terjebak hutang dan tidak memiliki uang di hari tuanya.*
Mengapa demikian?


Mari kita simulasikan sbb

Ada seorang manager dengan Gaji 15 juta sampai Rp 20 juta sebulan.

Pengeluaran bulanan sekitar 30% dari gaji atau sekitar Rp 8 juta  per bulan atau sekitar 100 juta per thn.


Asumsi manager tsb berusia 35 dan pensiun 55. Artinya usia produktif masih 20 tahun lagi sampai dia pensiun di usia 55 tahun.

Asumsi ekonomi Indonesia cukup baik dan tingkat Inflasi  di bawah 1 digit Sehingga untuk  mendapat kenikmatan yg sama  (sebesar rp 100 juta ) di saat dia berusia  pensiun sudah menjadi Rp 386juta. ( nilai rp 100juta sdh menjadi rp 386 juta krn inflasi).


Asumsi manager tadi diberi umur panjang sampai 75 tahun.  Artinya untuk hidup 20 thn  setelah pensiun dia butuh biaya sekitar Rp 8 miliar ( 20 thn kali  Rp 386 juta).


Pengeluaran Rp 8  miliar untuk pensiun tidak ada masalah kalau dia memiliki dana yg cukup.


Yg terjadi di Indonesia sungguh mengkawatirkan:

*1. Manager kita tidak memiliki financial plan yg baik.*

Misalnya mereka tidak pernah memiliki investasi. Uang masuk ke bank karena gaji tapi akan habis seturut gaya hidup.

Misalnya, gaji rp 10 juta dan total pengeluaran rp 8 juta. Nabung 2 juta.

Naik pangkat dan gaji menjadi rp 15 juta , anehnya pengeluaran ikut naik menjadi Rp 12 juta per bulan ( hp terbaru, lebih sering ke cafe, lebih sering shoping dll)

Gaji naik menjadi rp 20 juta , aneh tapi nyata pengeluaran menjadi 17 juta. Ada seribu satu alasan kenapa pengeluaran jadi besar spt ganti mobil, hobi betambah, ikut travel kemana mana dll.


Lucunya para manager menghitung seolah olah tiap tahun naik gaji dan dapat bonus padahal soal naik gaji atau bonus diluar kontrol mereka.

Satu satunya  dalam kontrol kita adalah managing expences ( pengeluaran). Ini yang justru tidak kita lakukan. Jadi banyak yg beli mobil baru asumsi dapat bonus berapa bulan dan naik gaji besar. Kenyataannya tdk demikian.


Akibatnya gali lobang tutup lobang. Lebih besar pengeluaran daripada penghasilan.


*2. Model  keuangan profesional kita kira sbb*

a. Punya kartu kredit tapi revolver ( bayar tidak full dengan bayar bunga 30 sampai 36%)

b. Kalau ditanya apakah punya asuransi. Jawab ada. Kalau ditanya kenapa beli asuransi tsb. Jawabannya karena tidak enak yg jual saudara atau anak tetangga yg baru kerja.

Kalau ditanya apakah punya reksadana , jawaban ada. Bila ditanya kenapa beli reksadana ini dan bukan jenis lain. Jawabannya karena kenal sama yg jual.

Jadi pola keuangan profesisonal kita amburadul. Tidak terintegrasi.


*3. Yg susah berubah adalah gaya hidup.*

Kalau saat jadi manager seminggu 3 kali makan siang di resrorant maka setelah pensiun tidak otomatis tdk ke restorant, hanya berkurang menjadi seminggu sekali.

Kalau saat jadi manager naik sedan, tidak berarti saat pensiun naik motor.

Kalau saat jadi manager sehari satu bungkus rokok  tidak berarti setelah pensiun berhenti merokok. Begitu banyak kebiasaan dan gaya hidup yg susah beeubah  ketika pensiun dan inilah yang menyebabkan pengeluaran tetap banyak.


Ditambah satu hal lagi kalau sudah pensiun; sakit sakitan atau biaya pengonatan bertambah. Kalau dulu ditanggung perusahaan tapi sekarang harus bayar sendiri,

Jadi bisa diperkitakan banyak profesional kita miskin di hari tua.


*Bagaimana dengan generasi Milenial?*

Pertama, millennial tidak  bisa memiliki rumah karena harga rumah naik hingga 20% setiap tahunnya tidak sebanding dengan pendapatan yang hanya akan mengalami kenaikan 10% setiap tahun.


Kedua pola hidup Konsumtif
Perubahan jaman membuat gaya hidup masyarakat pun menjadi semakin konsumtif. Berdasarkan data dari cnbc.comgenerasi millennial menghabiskan 72% pengeluaran mereka untuk makan atau ngopi di restoran. Tribunnews.com pun mencatat bahwa generasi millennial dengan gaji Rp 27jt/bln dapat menghabiskan lebih dari Rp 47 jt tagihan kartu kredit dalam satu tahun di coffee shop. Angka yang cukup fantastis bukan untuk pengeluaran dalam satu bulan?


E commerce, Go food, Grab dll sangat memudahkan sekaligus mendorong terjadi pengeluaran yang semakin besar.

Apabila dibandingkan dengan generasi X dan Baby Boomers, generasi millennial memiliki pengeluaran lebih besar namun jumlah tabungannya justru lebih kecil.


Dapat disimpulkan beberapa masalah yang terjadi di Indonesia:

 *1.  Tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik*

 *2.  Pola pengaturan keuangan tidak terintegrasi dengan baik*

 *3.  Sulitnya mengubah gaya hidup yang konsumtif.*

 *Sebelum TERLAMBAT Rencanakan keuangan anda sekarang juga....*

No comments:

Post a Comment