Wednesday, 29 May 2019

Travel to East Timor Part 2

Tiba di Da Terra aku disambut dengan ramah oleh Vilar, si ownernya. Dikasih pilihan, mau bayar sekarang atau tunggu sampai check-out. Kemudian disajikan dengan menu dinner, ada sup labu kuning, sebelumnya aku diantar ke ruangan tidur dan kelihatan lumayan untuk ukuran suatu penginapan. Untuk staffnya cukup ramah dan membantu, mereka berkomunikasi dengan baik. Saat aku menginap di Da Terra, aku berkenalan dengan sejumlah orang asing. Maria, si orang Portugal. Bekerja di Baucau dan sedang berlibur ke Dili, orangnya perokok berat,karena setiap kali aku lihat, rokok tak pernah mati di tangannya. Dia terkesan dengan seekor monyet yang dibiarkan bebas di atas sebuah pohon sukun di depan rumah yang berhadapan dengan Da Terra. Dia ahli sejarah, rupanya tahu banyak hal tentang riwayat perjalanan bangsa Portugis melakukan perjalanan keliling dunia untuk menemukan daerah baru. Menyukai kopi hitam yang sudah diseduh sendiri menggunakan bantuan kertas tissue. Sayangnya, sering mengeluh mengenai kelakuan orang baru yang dikenal, yang katanya seringkali memanfaatkan dirinya untuk dijadikan sokongan untuk dapat bekerja ke Portugal. Aku juga kenal dengan Christian, berkacamata, mungkin seorang mahasiswa, seorang muda dari Washington D.C. Amerika, melakukan diving dan snorkeling di perairan Dili, kedapatan batuk beberapa kali, semacam alergi tenggorokan. Dan ada seorang Portugal, namanya Joao, dari informasi katanya bekerja di Tibar, cukup ramah namun tidak bisa berbicara bahasa Inggris, kalo berkomunikasi pasti menggunakan bahasa Tetum, walaupun agak kurang lancar. Pernah kehilangan USB, dan sempat stress karena semua data yang diperlukan untuk bekerja ada di dalam usb tersebut. Finally, usb sudah ditemukan. Kebanyakan waktu di Dili aku habiskan dengan berjalan kaki keliling kota. Masalah yang aku temui di Dili adalah simcard aku yang tidak bisa maksimal dipakai, karena nomor Indonesia. Aku beli simcard baru di Dili, yakni Telemor seharga 1 USD dengan pulsa 1 USD. Untuk provider lain, ada Telkomcel juga. Untuk Timor Telecom, harus beli langsung ke kantornya dengan membawa kartu identitas, misalnya paspor. Makan siang dan makan malam kebanyakan di luar Da Terra. Beragam dari 1,5 dollar sampai 5 dollar. Menyusuri keindahan kota Dili masih membekas dengan masa kolonial maupun jaman pendudukan. Banyak sekali gedung maupun bangunan baru yang sedang giat dibangun. Tapi belum terlalu maksimal. Yang menghebohkan, salah satunya adalah pembangunan jalan raya jalur distrik yang menghempaskan debu sampai-sampai mengganggu kenyamanan perjalanan. Aku menikmati suasana kota dengan mengabadikan momen kunjungan dengan kamera Canon yang dipinjam dari teman di Indonesia. Perjalanan kembali ke Kupang, aku memilih Travel Paradise. Cuman tidak dikasih kue dan air minum seperti di Timor Travel. Apalagi kali ini, aku harus menempati kursi tengah deretan paling belakang. Tapi so far so good. Jadi untuk total biaya perjalanan ke Dili Timor Leste dari Kupang Indonesia, dengan biaya menginap selama 3 sampai 4 hari ditambah makan minum sekitar 125 USD. Itu sudah termasuk biaya travel dan visa on arrival. Semoga perjalanan ini memberi sedikit informasi bagi yang berminat melakukan petualangan ke Dili.

No comments:

Post a Comment