Monday, 15 April 2019

Hotel Mumbai

Peristiwa serangan teroris yang terjadi pada bulan Nopember 2008 membawa duka yang mendalam, karena banyak korban warga sipil dan wisatawan asing dari sejumlah negara. Kejadian di kota Mumbai yang merupakan pusat bisnis besar di India. Menyimak banyak cerita pilu, menyangkut pertolongan yang dibutuhkan saat nampak sudah tidak ada jalan keluar lagi. Dari lukisan wajah para teroris, diketahui bahwa mereka adalah kawanan yang mudah diracuni oleh pikiran ekstrimisme yang menjadi tidak puas akan suatu sistem atau tatanan yang bertentangan dengan keyakinan mereka yang keliru akan suatu toleransi. Banyak orang dibawa ke dalam pencarian akan jati diri yang menyesatkan, perlakuan yang dibentuk selama masa yang disebut sebagai pola pelatihan untuk mempersiapkan tentara siap mati untuk membela dan membenarkab apa yang mereka anggap sebagai upaya untuk membela keyakinan dan mendirikan falsafah yang mereka ingin bangun dengan memusnahkan apapun yang berseberangan dengan mereka. Melihat penampilan dari rekrutan teroris yang terkesan lugu, dan memberi kesan kasihan. Stop. Tipuan dari penampilan, namun otak mereka sudah dicuci dengan serangkaian ujaran kebencian yang totalitasnya tidak dapat dipilah lagi, benar-benar murni untuk siap tempur dan rela mati. Konyol dan sulit diterima. Itulah apa yang dapat dikatakan mengenai pengikut sekte penggila perang tersebut. Tidak bisa dilepaskan jika terorisme muncul sebagai bagian dari upaya terselubung untuk mewujudkan cita-cita dari penganut paham ektremis. Siapa saja dapat terprovokasi dan apa saja dapat menjadi alat provokasi. Bagaimana dengan maksud dan keinginan dari pengacau tersebut. Satu penuturan yang diketahui bahwa sebelumnya terjadi ketidak-puasan, tidak terselesaikan dengan baik. Mengujung pada penumbuhan sinisme dan orientasi yang lebih berpusat pada suatu prinsip, gagasan, pandangan, yang dimunculkan lewat pengajaran dan pemanfaatan keterbatasan akses seseorang atau kelompok terhadap pemenuhan hak, membuka jalan bagi suburnya proses menghadirkan teroris yang diniscaya akan menjadi penyeimbang dalam tuntutan sistem perpolitikan dan ekonomi suatu wilayah. Kemauan keras untuk menetapkan prioritas seakan bukan lagi yang utama saat berhadapan dengan situasi genting. Bagaimana tidak, sebuah hotel semegah Taj di Mumbai bahkan harus kewalahan dalam menangani serangan para teroris. Mereka dengan mudah mendapatkan akses ke ruang elit yang kalau dipertimbangkan, semestinya memiliki tingkat sekuritas yang amat tinggi dan canggih tentunya. Berapa lama waktu yang ditempuh oleh pasukan garda keamanan nasional India dalam menumpas aksi teror dimaksud. Bisa jadi karena terbatasnya kesiapan dalam mengelola persoalan teror. Atau perencana aksi teror yang terlalu lihai sehingg sulit dikalahkan. Walaupun di akhir diketahui bahwa sembilan dari sepuluh pelaku terror dapat dibinasakan, kendati otak dari aksi masih bebas mengembara tanpa diketahui secara pasti akan keberadaannya. Kisah heroik dari karyawan hotel mengemban peran dalam mengevakuasi tamu dan sejumlah pekerja lain memberi acungan jempol di saat mereka sebenarnya punya pilihan lain untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Disadari bahwa tidak ada satu pun situasi yang dapat dijamin akan sesuai dengan impian kita. Yakni ketenangan, kebahagiaan, kesempurnaan. Namun di sisi lain dari hiruk pikuk kota Mumbai yang keras, dapat dijumpai kedamaian dan kesejukan hati dari sebagian orang yang dengan rendah hati mengakui akan segala keterbatasan mereka dengan melakukan kerja dan dinamis yang tak putus-putusnya untuk menghidupkan nyala kehidupan bagi gemerlapan kota Mumbai, mereka itu adalah masyarakat kelas pekerja yang dengan jujur dan setia memberi pengabdian terhadap atasan mereka walau ketidak-adilan terasa sulit untuk mereka utarakan.

No comments:

Post a Comment