Wednesday, 3 April 2019

Refleksi kekristenan

Kekristenan dimaknai sebagai kristus tinggal di dalam diri kita sehingga kita menghidupkan Firman Tuhan dalam hidup kita, berpedoman dengan nilai nilai kekristenan, tanpa hal ini, kita menjalani kelahiran baru dengan kehidupan yang diubahkan, secara bertahap mengalami perubahan menjadi kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Orang Kristen yang sejati adalah orang yang menyadari akan singkatnya hidup dan kedatangan Tuhan semakin dekat. Mengenai penguasaan diri untuk dipimpin oleh Roh Kudus, menetap di hadirat Tuhan, meminta kemampuan dari Tuhan dengan menggantungkan seluruh aspek hidup kita, melalui doa, Firman Tuhan, kita minta Dia mengontrol hidup kita. Kita mudah terpengaruh, semakin mudah terbawa arus dunia, melalui tayangan televisi atau apa yang menjadi trend di sekitar kita. Memiliki kepekaan dalam iman, sehingga kita tidak mudah termakan dengan situasi yang ada. Belajar menjadi pribadi yang tenang, harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dalam hal ini, kita dapat mendengar ketika Tuhan berbicara untuk kita, sehingga kita dapat menghadapi apapun gejolak dalam hidup. Sehingga Roh Kudus dapat bekerja secara sempurna. Kita mengetahui apa yang akan dan harus kita doakan, bagaimana mengatur pujian dan penyembahan dalam saat teduh kita bersama Tuhan. Mengalami impartasi Tuhan melalui kehidupan doa yang dibangun dalam hidup kita, ini merupakan DNA kita, sehingga tidak mudah terguncang. Kita mendapatkan signal menyangkut hal-hal apa saja yang perlu kita doakan. Untuk meraih kemenangan dalam peperangan rohani di dalam dunia. Sejumlah kesaksian mengenai kuasa doa, salah satunya saat terjadi kerusuhan di kota Kupang tahun 1998, adanya keluputan ketika doa dinaikan untuk meminta perlindungan dalam keadaan bahaya. Orang Kristen yang sejati menempatkan pelayanan akan satu dengan yang lain, selalu membangun orang lain dengan selalu menyampaikan hal yang baik dan benar. Serta yang menyadari akan anugerah Allah dalam hidup, sehingga setiap saat memiliki ketergantungan sepenuhnya kepada Allah saja. Disamping itu juga ada kerelaan untuk menderita, mengalami ketersiksaan walaupun sudah ada kebaikan yang telah kita lakukan. Tetap tenang dan berharap pada Tuhan. Sebagai sebuah komitmen dalam Hal penyangkalan diri, karena jati diri kita adalah Kristus yang diam di dalam hidup kita. Suatu keputusan yang berat, namun menjadikan Tuhan sebagai pusat dari kehidupan kita, kita meyakini bahwa dibalik salib ada kemenangan. Selalu memberi diri untuk dipimpin oleh Tuhan. Memberi diri dengan kesiapan untuk menjalani proses yang harus kita lalui, ini pembentukan yang dilihat sebagai maksud Tuhan untuk kebaikan kita. Beralih kepada kedewasaan, menerima dengan syukur.

No comments:

Post a Comment