Masa ada batasnya dan batas juga ada masanya. Seringkali penempatan persepsi mendahului keutuhan suatu keyakinan. Peran dan fungsi dipandang sebagai pola yang statis meskipun kadang terdramatisasi dalam hayatan. Dalam pandangan yang dikatakan lebih beradab, pola dianggap dan dipuja dengan penyerahan utuh akan kepalsuan kharisma. Mengenal seseorang bisa jadi membawa perubahan. Membuka diri secara terselubung, gagasan kesempurnaan semata yang diinginkan. Berapa banyak orang yang menyatakan diri sebagai gagal produk atau fokus akan suatu pesona temperamental belaka. Menilai apapun itu tidak serta merta menghadirkan penerimaan yang tidak berpihak. Pemimpin atau atasan ditaruh sebagai pihak dan pribadi yang semacam toko kelontong yang menyediakan beragam kebutuhan dasar bagi pengikutnya. Sekian banyak catatan dengan tegas menganggap bahwa unsur tertinggi yang dianut, melirik pada cara bertindak dan bersosialisasi akan paham yang universal. Come on, man. Apa yang menjadi super telah menjadi semacam orientasi dari ketidak-matangan daya cerna. Setiap saat penuntutan menyatakan sebagian harapan dan peran yang tidak terwakilkan. Bagaimana membedakan suatu nuansa dengan batasan yang samar-samar. Sejauh mana kecerdikan dan kelicikan meniup putaran peradaban untuk kendali atas suatu sistem. Melihat kecenderungan jaman yang mengemuka pada keberlangsungan manusia sebagai makhluk individu dengan mulai mengebaskan debu inti sari suatu komunitas sosial. Ketakutan disebar, kegelisahan diumbar, kepanikan disalurkan. Tidak ingin berada dalam kebingungan. Upaya dilakukan untuk mempertahankan diri dan harga diri, mengemukakan apa saja. Tidak cukup tersedia ruang bagi pemenuhan kebutuhan baru, sebaliknya kesempatan terbentang lebih luas dalam suatu fenomena yang selama manusia ada, senantiasa tak bosan menghadirkannya, kedamaian kah itu. Moralitas pergeseran naik ke norma sosial yang lebih kompeten dan diminati. Pejuang akan tetap dikenang sebagai pejuang pada jamannya.
No comments:
Post a Comment