Manusia mencari alasan untuk membenarkan diri dengan mengambil sebagian penafsiran kitab suci. Ketika kita menyadari akan sesuatu yang baru semacam penemuan menjadikan manusia untuk lebih menciptakan apapun secara lebih baik untuk segala aspek kehidupannya. Kita diperhadapkan dengan kondisi dimana ada antagonistis di masyarakat. Ada yang menginginkan untuk kunjungan ke tanah suci, namun tetangga sebelah rumah bahkan tak pernah dikunjungi. Rumah orang diperbesar dengan berbagai harta dan pernik walaupun dalam keluarga yang hanya beranggotakan tiga orang. Penemuan alternatif kesehatan baru sedangkan banyak orang terpuruk dengan berbagai macam penyakit mematikan. Keadaan manusia dulu mengacu pada alasan yang dipakai sebagai dalih atas ketidak-sanggupan dalam mematuhi setiap aturan atau perjanjiab yang sudah dibuat ataupun yang telah disepakati. Banyak orang mengambil pola bertanding untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik. Disadari namun tidak terlalu dianggap, pihak atau orang yang kurang beruntung dalam laga akan terus memacu mengasah serta meningkatkan keterampilan sehingga dapat memenangkan pertarungan yang membawa kedigjayaan walau harus setengah mati bertaruh dengan separuh hati. Mengungkapkan apa yang ada dibalik persaingan membawa pada kekecewaan, keputus-asaan, bahkan pemberontakan maupun apatis-anarkis. Peluang masih ada, namun banyak orang lebih memilih untuk berperang untuk mencapai apa yang bisa mempertahankan harkat. Melihat jauh di sekitar, suatu konsep mendominasi menguasai dan mempengaruhi masih belum banyak dimanfaatkan. Padahal bumi ini masih sangat amat luas dengan milyaran potensi yang masih tersedia. Ketakutan saja yang mengkuatirkan ketersediaan sumber daya yang diperlukan bagi pengembangan perluasan areal aspek hidp manusia. Dengan mendominasi kita berusaha untuk memperlebar peluang, meninggikan himpitan sehingga kita bebas terbang dan lebih jelas mengamati setiap sudut yang ada dari kemajuan proses mendapatkan dukungan akan karya yang lebih maksimal. Kita ditempatkan pada bidang yang ada dengan maksud agar pengembangan dari apa yang ada saat ini tidak menjadikan hambatan untuk tetap berusaha hingga tujuan yang lebih besar dengan dampak kebaikan bagi banyak orang dapat terwujud tanpa meninggalkan sejumlah efek luka ekonomi yang timbul dari persaingan dalam kerja dan usaha yang sama. Katakanlah setiap orang mengerjakan bagian mereka dengan memberikan peluang dan kesempatan orang atau pihak lain juga untuk menggarap apa yang menjadi pilihan mereka yang telah ditentukan sejak awal. Kekosongan banyak dan peluang selalu ada, seperti manusia yang datang dan pergi. Dunia ini masih memerlukan banyak sekali pekerja untuk mengambil peluang dengan berani menciptakan peluang di tengah hambatan dan tantangan baru. Apakah ini bisa dilepas pisahkan untuk sementara dari konsep bahwa manusia adalah makhluk sosial yang pada hakekatnya perlu berdamping atau bersaing sebagai bagian dari naluri alamiah untuk tetap mempertahankan spesies yang sejatinya memiliki tingkatan ilmu dan daya nalar yang diberikan secara spesial dan unik oleh penciptanya dengan maksud sebagai perpanjangan tangan dalam norma sebagai agen perubahan.
No comments:
Post a Comment