Hidup yang memberi dampak....
Hidup yang membuat kita menambahkan nilai, pengaruh pada orang lain. Tentu saja untuk hal yang positif. Dimana pun Tuhan menempatkan kita, kita harus mengusahakan kesejahteraan bagi orang lain. Hidup untuk tujuan Tuhan menciptakan kita (Mat.20:20-23). Sesuatu yang tujuan, memiliki arahan yang benar. Memiliki Tujuan dalam hidup, bukan hanya datang dan beribadah di gereja. Namun untuk melayani sesama, memberi hidup kita untuk membuat orang lain jadi lebih baik. Percayalah, bahwa Tuhan punya cara untuk menolong kita, Dia memampukan kita. Hidup untuk kehilangan nyawa. Berkorban sesuatu yang sangat kita butuhkan. Kita memilih untuk memberikannya kepada orang lain yang mungkin sedang dibutuhkan oleh lain. Belajar dari Abraham. Berasal dari Ur-Kashdim, orang yang melakukan kehendak Tuhan. Karena dialah, kita disebut sebagai keturunan dari Bapa segala orang beriman. Musa, dipanggil Tuhan untuk memberi dampak, dengan membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Begitu juga dengan Nuh, dia berhasil menyelamatkan keluarga dan berbagai jenis hewan sesuai dengan perintah Tuhan yang diberikan kepadanya. Namun kesamaan dari sejumlah tokoh tadi, mereka juga pernah mengalami masa lalu yang kelam. Mereka pernah salah atau gagal, namub hal itu bukan halangan untuk kita bisa hidup memberi dampak dan pengaruh bagi orang lain. Mengenai Yosua, lebih memfokuskan diri untuk perang, dan tidak melakukan pemuridan. Yang mana dapat mempersiapkan generasi baru. Bahkan Elia juga pernah gusar dan takut akan ancaman Izebel. Dalam Alkitab, banyak kali Yesus selalu mengajak atau menanyakan mengenai ketersediaan makanan. Hal ini, yang membawa kita untuk lebih peka dengan kesediaan untuk melayani. Dalam bagian lain di perjanjian lama, kita mengetahui juga bahwa para nabi mendengar dan melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan kepada mereka. Memiliki iman yang disertai dengan perbuatan. Prioritas utama yang kita lakukan adalah mencari Tuhan, sehingga Tuhan akan memampukan kita untuk menemukan jawaban atau solusi atas persoalan yang kita hadapi. Hasil dari apa yang kita lakukan, adalah memperoleh semua yang Tuhan mau. Mendapatkan dan menemukan apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar oleh telinga bahkan timbul di dalam hati.
... Bagaimana dengan Yesus sendiri. Ia melakukan seperti yang diperintahkan Bapa. Ia adalah sumber iman. Yakni Firman yang telah menjadi manusia. Yesus tidak pernah gagal atau berbuat kesalahan. Kehidupan Yesus adalah sikap hati yang merendahkan diri. Ia taat bahkan sampai mati di kayu salib. Kita belajar dari orang lain, menempatkan mereka di posisi penting. Tidak membuat penghalang, sehingga kita tidak memiliki prasangka buruk akan orang lain. Hal ketaatan adalah mutlak. Hal ini agak sulit, karena ada kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada kita. Dimana roh pemberontakan yang kita warisi semenjak Adam dan Hawa. Namun memilih untuk tidak menaruh keinginan daging untuk pembalasan atau pemuasan semata. Kita harus mencoba untuk keluar dari pemberontakan. Memiliki gaya hidup ketaatan yang harus dikembang-biakan, dimulai dari pribadi kita. Apa tujusn hidup kita untuk berdampak. Diantaranya adalah supaya semua makhluk bertekuk lutut. Bukan hanya sekadar berdampak. Karena melihat kehidupan kita, dan ada harga yang harus dibayar. Ada produktivitas yang dapat terlihat, dimana bukan hanya rutinitas. Saat kita menolong orang lain, ada perubahan dalam kehidupan orang yang kita layani. Jangan berhenti sampai kita melihat ada perubahan dalam diri orang yang kita bantu. Selain itu, supaya semua lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Yang mana hal itu dapat dimaknai dari hidup kita.
No comments:
Post a Comment