Sunday, 10 March 2019

Bendungan Raknamo

Tidak seperti dua puluh tahun yang lalu. Aku bingung ketika suatu siang terlintas Raknamo di pikiran. Pernah aku berurusan dengan nama itu ketika aku harus menjalani survey pemetaan pendidikan di Kecamatan Kupang Timur sekitar tahun dua ribu. Aku menjelal sejumlah sekolah dasar yang ada di kawasan tersebut selama sebulan. Kesulitan sarana transportasi dan akses jalan yg waktu itu masih bertanah putih, berdebu atau tanah merah, becek dan ga mudah untuk dilewati. Tapi karena penasaran dengan alam yg begitu indah dan baru bagi aku, aku upayakan untuk menghabiskan waktu yg terbaik guna memperoleh data yg dibutuhkan dalam survey, diantaranya juga dengan sedikit wawancara dengan orang lokal. Aku juga kagum dengan pemandangan perkampungan disana. Keinginan untuk kembali lagi seakan pupus karena makin lama koq ga mudah untuk melakukan trip kesana, walau pengen dan kenekatan untuk berkunjung sendiri selalu ada. Mungkin namanya nostalgia. Tidak ada yg terlalu menarik bagi orang lain, namun suatu kesan di diri aku yg ingin lagi melihat seperti apa rupanya sekarang. Setelah diresmikannya bendungan Raknamo pada beberapa waktu lalu, dengar-dengar bahwa banyak rekan teman dan pengunjung yg menghabiskan waktu untuk beranjangsana ke Raknamo. Tapi aku belum beruntung karena kesibukan yg belum bisa menginjinkan. Penasaran semakin menjadi-jadi setelah melihat sejumlah postingan mengenai keindahan Bendungan Raknamo. Akhirnya aku putuskan untuk pergi sendiri, berkendara satu jam dari kota Kupang, menghabiskan pertalite satu liter untuk bolak balik rasanya super hemat. Terlihat banyak perubahan, atau mungkin aku saja yg heran dalam ketidak-tahu-menahu-an aku mengenai suasana setelah sekian lama waktu. Aku mengambil rute jalan Timor raya dan berbelok ke arah kanan setelah km tiga puluh delapan di Naibonat, jalan yg mulus dan lebar menambah kesenangan perjalanan, dan jalur ini pun beraspal halus sampai mendekati gapura berbelok ke arah bendungan. Perlintasan dengan hawa sejuk dan agak meninggi, menampung oksigen dengan standar bersih yg hampir mendekati angka sempurna. Mendekati kawasan bendungan, bahagia rasanya karena aku bisa menginjakan kaki di salah satu bendungan terbesar di tanah air. Banyak warga memanfaatkan untuk berfoto di areal patung di areal bendungan, ataupun tulisan bendungan Raknamo maupun mengambil jalan jalan santai, nampaknya ada yg lagi melakukan pengambilan adegan syuting, film Raknamo i'm in love. Menurut pikir aku. Aku menyempatkan diri untuk mengambil sejumlah gambar. Walau sendiri, aku merasa seakan Raknamo is belong to me. Tidak bosan aku berkelana sepanjang bendungan, dan satu yg belum ketahui sampai saat ini, apakah ada karcis masuk. Karena aku tidak melihat kenampakan petugas parkir. Untuk toilet, lumayan karena mudah diakses dan cukup bersih dengan ketersediaan air bersih. Semoga hal ini dapat dipertahankan, dan bisa diupayakan lebih baik lagi. Misalnya penyelenggaraan event yg bisa mengangkat nama Raknamo dan membuat kecintaan akan Raknamo karena pesona yg tidak hanya fokus pada penyediaan air bagi irigasi di kawasan Kupang.

No comments:

Post a Comment