Pernah kecewa pernah marah pernah sakit hati pernah gundah, lanjutkan dengan yg apa pun perasaan negatif yg sudah anda alami. Aku mau bilang, selamat. Aku pun mengalami hal demikian. Mudah untuk menyembunyikan perasaan negatif. Selalu ingin dikenal hanya untuk hal yg baik-baik saja.
Wajar saja bila saat down kita ada dalam situasi yg menghimpit, seakan apa yg kita alami hanyalah gelap dan tak berdaya. Kekuatan bukanlah berasal dari fisikal belaka yg memungkinkan kita bertahan dan tidak mampu dikalahkan, justru kekuatan itu ada jauh di dalam diri manusia kita yg tidak kelihatan. Sudah menjalani pembelajaran dan menjadi referensi ketika kita ingin kembali ke cermin hidup kita. Proses menjadi kuat dimulai dengan langkah awal untuk mendirikan pondasi di atas pemahaman yg baik akan siapa diri kita. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak sekaligus menggantikan manusia batiniah kita. Jiwa yg kokoh, pandangan yg benar, persepsi serta anggapan yg berlaku universal memberikan wahana baru dalam menambah ketajaman untuk meyakini bahwa keterbatasan dan keunikan perlu dipelajari. Sampai kapan. Dunia masih berputar. Kita masih menjalani siklus yg sama, dimana terjadi banyak perdebatan yg tidak akan pernah usai mengenai kebaikan, kesatuan pemerataan sampai ke akar dari berbagai kesenjangan dan ketertinggalan. Selama hak dan kewajiban belum seimbang, kontrol akan kinerja selalu ada. Perubahan diupayakan dari waktu ke waktu. Ketidak-puasan bisa saja timbul sebagai bagian dari pengamatan secara hati-hati. Siapa pun yg masih bergulat dengan kehidupan tidak bisa menutup mata akan ketidak-pastian yg sewaktu-waktu datang dan menjadi tamu di rumah hati kita untuk sekian waktu tertentu. Hidup perlu keseimbangan, namun hidup juga mesti tidak berjalan rata, makna dari perlunya keberpihakan seyogyanya bermula dari tata letak suatu standar dalam ukuran yg dipakai dalam menakar kehidupan kita.
No comments:
Post a Comment